MENGENAL ROTAN DAN PEMBUDIDAYAANNYA

Sabtu, 18 Agustus 20120 komentar


PENYEBARAN ROTAN
Tumbuhan rotan banyak dijumpai di daerah khatulistiwa dan sekitarnya. yaitu sejak dari Afrika, India, Srilanka, Kaki pegunungan Himalaya, China Bagian Selatan, Malaysia, Indonesia, Pasifik Bagian barat sampai Fiji.
Beberapa jenis rotan yang penyebaranya sangat luas adalah Rotan Semambu (calamus scipionum), dijumpai di Viernam Kalimantan, Sumatera dan Palawan. Rotan Kesur (calamus ornatus) dan varitasnya banyak dijumpai di Thailand, Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Philipina. Jenis rotan yang endemik hanya tumbuh di suatu tempat adalah Daemonorop oblata dijumpai di hutan kerangas Kalimantan Bagian Barat dan Daemonorop unijuga hanya di jumpai di Pegunungan Batukapur Serawak Barat.
Di Indonesia, rotan dijumpai tumbuh subur secara alami dalam kawasan hutan di Lampung, Jambi, Bengkulu, Riau, Sumatera Selatan, Seluruh Kalimantan dan Sulawesi.
Tiap jenis rotan memiliki persyaratan tumbuh yang berbeda-beda. Rotan Manau (Calamus manan) umumnya tumbuh subur di daerah yang mempunyai ketinggian 300 m dpl. Rotan Sega (Calamus caesus), Rotan Semambu (Calamus Scipionum) dan rotan Irit (calamus trachycoleus) dapat tumbuh di daerah yang mempunyai ketinggian di bawah 300 m dpl. Dan Rotan Tohiti (calarnus inops) tumbuh baik di daerah yang ketinggiannya antara 100-800 m dpl.
Jenis-jenis rotan yang bernilai komersial, seperti rotan Irit pertumbuhan batangnya 3.0 – 7,0 meter/tahun, Rotan Sega 3,9 – 5,6 meter/tahun, dan Rotan Hainan (Calamus hainanensis) 3,5 – 5.0 meter/tahun.
Jernang (Daemonorops draco) adalah rotan yang tumbuhnya berumpun. Buahnya berukuran 1-1,5 cm berbentuk bulat telur, dalam dunia pengobatan dapat dimanfaakan untuk obat sipilis, diare, kanker, reumatik, sebagai tonikum, peluruh kencing dan obat penenang. Kulit buahnya dimanfaatkan untuk bahan pamerah, vernis, odol, dan lain-lain.
Rotan Gunung (Calamus exilis) tumbuh berbatang tunggal hidupnya merambat, panjang batangnya dapat mencapai lebih dari 6 meter. Rotan ini batangnva dapat mencapai lebih dari 6 meter. Rotan ini biasanya dipergunakan untuk keperluan tali-temali dan untuk pembuatan barang- barang anyaman.
Rotan Udang (Korthalesia echinometra), penyebarannya terbatas hanya di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Panjang batangnya dapat mencapai sampai 10 meter lebih dengan diameter batang antara 30-35 mm. Secara lokal rotan ini dimanfaatkan untuk pembuatan peralatan rumah tangga.
Di Sumatera banyak dijumpai tumbuh di hutan dipterocarus baik di hutan primer maupun di hutan sekunder.
PERSIAPAN LAHAN
Pada umumnya rotan dapat tumbuh dalam berbagai kondisi tanah, terutama di tanah-tanah yang lokasinya berada di pinggiran sungai, dengan permukaan air tanah relatif dangkal.
Karena rotan itu tumbuhnya merambat, maka ia memerlukan pohon sebagai tempat panjatannya. Pohon yang akan menjadi tempat panjatannya harus mempunyai habitat yang sama dengan rotan yaitu harus tahan terhadap genangan air dan tahan oleh pelumpuran. Di samping itu pohon tersebut harus kuat memiliki percabangan yang rendah, pertumbuhannya cepat dan mudah diperbanyak.
Jenis pohon yang sering dipergunakan sebagai tempat panjatan rotan antara lain Sempur (Dillenia sp.), Langsat (Lansiurn domesticum), Rambai (Baccaurea sp.), dan Bungur (Lagerstroemia sp).
Jarak tanam pohon untuk tempat memanjat rotan adalah 10 X 10 meter atau tidak kurang dari 8 X 8 meter, agar dalam pemeliharaan dan pemanenannya dikemudian hari mudah dilaksanakan.
Dalam upaya meningkatkan produktifitas lahan, seperti bekas kebun karet yang sudah tua dan sudah tidak produktif, areal ladang yang terlantar, dan areal hutan-hutan rawang dapat ditumpangsarikan dengan rotan.
Dalam pemilihan jenis rotan yang akan dibudidayakan, pertimbangan yang kiranya perlu diperhatikan adalah sifat dan kecepatan tumbuhnya dikaitkan dengan kecocokan lahan yang tersedia.
PEMBIBITAN ROTAN
Bibit rotan dapat diperoleh baik dari biji yang disemaikan terlebih dahulu, maupun berasal dari anakan yang telah tumbuh secara alami di lantai hutan dan atau dari hasil pengambilan anakan rotan dengan cara memisahkan dari rumpunnya.
a. Bibit Rotan dari Persemaian
Tumbuhan rotan pada umumnya akan menghasilkan buah matang pada bulan-bulan Oktober dan November. Buah yang sudah matang ditandai dengan keluarnya semacarn lender di sekelilingnya, atau bila warna buahnya telah menguning kecoklatan.
Pengambilan buah rotan dapat dilakulen dengan menggunakan galah panjang yang ujungnya dilengkapi dengan pisau pengait.
Untuk penanaman areal seluas I (satu) hektar, Rotan Sega memerlukan buah sebanyak 200 kg dan Rotan Irit memerlukan 150 kg.
Untuk membersihkan biji dari kulit dan daging buah serta kotorannya, harus direndam terlebih dahulu dengan air dingin selama I – 2 malam, kemudian diinjak-injak beberapa kaki sampai bersih. Selanjutnya, biji yang sudah bersih itu disimpan di tempat yang kering dan teduh.
Pengangkutan biji rotan dibungkus dengan kertas koran dan daun pisang, setelah dibasahi dimasukan ke dalam karung goni. Biji rotan tersebut akan tahan selama l0 – 14 hari bila kertas koran pembungkusnya tetap basah.
Lokasi persemaian, diusahakan pada tanah yang datar, kemiringannya tidak lebih dari 10%. Tanahnya subur, gembur dan kaya akan bahan organic serta dekat dengan sumber air agar memudahkan dalam penyiramannya.
Karena kecambah rotan tidak tahan terhadap cahaya penuh, maka tempat pembibitan harus berada di bawah pohon-pohon peneduh, atau dapat juga dibuatkan naungan dengan atap alang-alang/daun kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga cahaya matahari dapat tembus.
Bedengan dibuat dengan ukuran 5 X 1 meter atau l0 X 1 meter dengan jarak antara bedengan ± 60 cm.
Biji rotan yang sudah dibersihkan (untuk biji rotan yang relatif besar ukuranya), ditaburkan di atas bedengan berbentuk barisan, jarak antar baris 4 cm dan jarak antar biji dalam barisan ± 2 cm. Biji rotan yang ukurannya kecil cukup dengan menghamburkannya di atas bedengan.
Pemindahan kecambah rotan ke kantong plastic, setelah berukuran 0,5-1,5 cm, atau bila sudah berumur 2,5 – 3 bulan dan sudah memiliki 2 (dua) helai daun pertama. Rotan Sega dan Rotan Irit dalam setiap kantong plastic berisi 2 (dua) kecambah, sedangkan Rotan Manau dalam satu kantong plastik berisi satu kecambah, yang ukurannya sudah mencapai 3-5 cm panjangnya.
Pemupukan sebaiknya memakai pupuk kandang yang dilarutkan dengan air terlebih dahulu. Penyiraman dilakukan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari. Untuk mencegah penyerangan oleh hama dan penyakit perlu disemprot dengan insektisida dan atau fingisida.
Bibit Rotan yang sudah berumur l-1,5 tahun, atau sudah berdaun 5 – 7 helai, sudah siap untuk ditanam di lapangan.
b. Bibit Rotan dari Anakan
Bibit rotan yang diambil dari alam, dipilih yang tingginya sudah mencapai 20 – 30 cm, diambil dengan cara dicungkil memakai parang. Usahakan agar tanahnya banyak yang terbawa terutama yang melekat dengan perakarannya.
Bibit rotan ini dapat diperoleh baik dari rumpun tumbuhan rotan dan atau dari anakan rotan yang tumbuh secara alami dari biji rotan yang bertebaran di lantai hutan.
Anakan rotan tersebut di atas, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik yang sebelumnya diisi tanah campur kompos. Daun-daunnya dipotong separuhnya, untuk menjaga penguapan daun yang terlalu besar. Selanjutnya disimpan selama 2 – 3 bulan di tempat yang rindang. Disiram setiap hari tiap pagi dan sore sebelum dipindahkan ke lapangan.
Bila bibit rotan hasil penggalian ini tidak dimasukan ke dalam kantong plastik maka bibit tersebut harus segera disimpan dalam air yang mengalir perlahan selama 2,5 – 3 bulan untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas akar yang baru. Apabila telah muncul tunas-tunas akar baru, bibit tersebut sudah siap untuk dipindahkan ke lapangan.
PENANAMAN
  1. Pengangkutan bibit rotan dilakukan dengan hati-hati, agar perakarannya tidak rusak atau terganggu.
  2. Sebelum penanaman, bila bibitnya berjumlah cukup banyak terlebih dahulu disimpan di tempat yang teduh, dan disiram tiap pagi dan sore hari.
  3. Penanaman dilaksanakan pada awal musim penghujan. Bibit yang berkantong plastk sebelum ditanam harus dibuka lontongnya secara hati-hati.
  4. Lobang tanam dibuat 2(dua) buah dengan ukuran masing-masing 30 X 30 X 20 cm di sekitar pohon yang akan menjadi tempat panjatannya.
  5. Bibit ditanam dengan kedalaman 2 – 3 cm di atas leher akar, kemudian diurug dengan tanah gembur atau tanah bekas galian bagian atas. Bila tanahnya kurang subur, di setiap lobang tanaman diisi 3 – 5 kg pupuk kandang yang sudah dicampur tanah.
  6. Penanaman bibit harus berdiri tegak lurus, kemudian diikatkan pada pohon panjatannya dengan tali yang mudah lapuk.
  7. Rotan sega atau Rota Irit, jarakanya 10 x l0 meter dan tiap lobang berisi 2 – 4 bibit. untuk Rotan Manau, jarak tanamnya 6 x 6 meter dan tiap lobang tanam berisi I – 2 bibit.
PEMELIHARAAN
  1. Penyiangan tanaman dilakukan 3 – 4 kali dalam setahun, yaitu pada periode tanaman menghadapi masa kritis, sampai berumur 3 (tiga) tahun.
  2. Hama tanaman rotan adalah belalang yang memakan daun-daun yang masih muda, kemudian kera dan bajing yang biasanya memakan umbul atau pucuk daun muda.
  3. Penyakit tanaman rotan biasanya disebabkan oleh sejenis jamur (Pestalosia sp.) yang menyerang daun dan pembusukan pada pangkal batang. Sejenis Virus menyerang tunas-tunas muda yang dapat mengakibatkan tumbuhan rotan menjadi kerdil.
  4. Untuk mencegahnya, dapat dilakukan dengan cara penyemprotandengan insektiisida dan atau fungisida bilamana diperlukan.
  5. Kebersihan antara rumpun rotan harus dijaga agar memudahkan perawatannya.
  6. Pemupukan dilakukan selang 6 (enam) bulan selama 3 (tiga) tahun pertarna.
! KILIK SUBSRIDBE DAN KONFIRMASI !

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. EDUCATION - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger